Yudo Prasetyo (Cak Yudho) Serta Deni Afriandi (Cak Percil) Di Adili Di HK

Yudo Prasetyo (Cak Yudho) Serta Deni Afriandi (Cak Percil) Di Adili Di HK – KBRI Hongkong menyebutkan masalah dua pelawak asal Indonesia, Yudo Prasetyo (Cak Yudho) serta Deni Afriandi (Cak Percil) , yang diadili dikarenakan permasalahan visa dapat jadi pelajaran. Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) Hong Kong lantas punya niat mengedukasi banyak WNI yang bekerja di lokasi itu.

” Dari kami sejujurnya gini, kita dapat kerjakan pendidikan massal tentang hak serta keharusan kita, pertama jadi PRT (pembantu rumah tangga) , ” kata jubir JBMI Hong Kong Eni Lestari Andayani. Cak Percil serta Cak Yudho di tangkap sesudah isi acara yang di gelar oleh diantara satu grup Buruh Migran Indonesia. Tetapi menurut Eni, grup itu tidak tercatat resmi.

Eni menggarisbawahi, buruh migran di Hong Kong miliki banyak batasan. Batasan-batasan itu salah satunya merupakan mereka dilarang untuk bekerja ditempat beda serta dilarang terima gaji dari pihak beda.

Peristiwa ini perlihatkan kalau BMI tidak semua mengerti hukum. Lalu lihat kawannya kerjakan itu, ‘oh dapat tuh’, ini yang saya sangka juga rawan sebenarnya, ” papar Eni yang sempat berpidato dihadapan Sidang Umum PBB th. 2016 ini.

Jadi aktivis organisasi, Eni sempat juga mengadakan acara. Tetapi acara yang dihelat itu atas nama organisasi, hingga keuntungannya lantas masuk ke kas organisasi.

Pihak penyelenggara acara yang di isi Cak Percil serta Cak Yudho, kata Eni, belum juga tercatat di pemerintahan Hong Kong. Hingga tidak mempunyai account perbankan dengan cara organisasi.

” Nah, diibaratkan dia (panitia) terima uang dikarenakan jual ticket, bila organisasi kan uangnya masuk kas organisasi, tapi dikarenakan bukanlah organisasi ini uangnya ke dia, ” tutur Eni.

Walau sekian, Eni dapat menghubungi grup BMI penyelenggara acara itu. Meskipun sampai saat ini JBMI masih tetap belum juga berhasil mengontak mereka.

Disamping itu dalam info dari Konjen RI Hong Kong Tri Tharyat lantas dijelaskan kalau panitia acara juga diinterogasi oleh aparat setempat. Tetapi mereka dilepaskan dengan keharusan melapor ke Imigrasi Hong Kong dengan cara berkala.

” Saya mengharapkan mudah-mudahan hal semacam ini sanggup jadi peristiwa paling akhir sekalian jadi pelajaran yang bernilai untuk kita semua WNI di Hong Kong, ” kata Tri dalam keterangannya.