Tipu Ratusan Nasabah BRI dengan Kredit Online, 2 Orang Ditangkap

Tipu Ratusan Nasabah BRI dengan Kredit Online, 2 Orang Ditangkap – Beberapa ratus nasabah bank ditipu karenanya ada situs palsu sehubungan utang online. Banyak aktor meraih keuntungan sampai miliaran rupiah dari perbuatan mereka.

” Berdasar pada laporan penduduk, pihak BRI mengkaji transaksi yg dilaksanakan serta sebagian besar dilaksanakan di Sulsel, ” kata Kepala Pelayanan BRI Pusat Dedi Juhaeni di Mapolda Sulsel, Makassar, Jumat (11/1/2019) .

Atas laporan itu, pihak Ditkrimsus Polda Sulsel meningkatkan penyidikan. Dari data yg disatukan, terdaftar kurang lebih 115 nasabah yg tertipu utang online ini. Keseluruhan kerugian bahkan juga raih Rp 1, 4 miliar.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengemukakan sampai kini ada dua terduga yg udah diamankan. Mereka yaitu Suparman serta Sudirman yg ada di Kabupaten Sidrap. Dalam laganya, Suparman bikin situs mengenai utang online serta disebarkan dengan cara acak.

” Terduga sebarkan SMS melalui cara secara acak terdapat utang online dengan prasyarat ringan serta bunga rendah lewat creditrupiah. com, ” kata Dicky di tempat yg sama.

Suparman bekerja sama-sama dengan Nursyam, yg sekarang tetap berstatus DPO. Jikalau terduga tertarik, Nursyam mengontak korban serta mengharap supaya korban mempunyai rekening BRI yg tercatat di internet banking. Prasyarat yang lain, nasabah mesti mempunyai dana kurang lebih 10 prosen dari keseluruhan dana yg bakal dipinjam.

Nursyam berkirim satu link situs palsu BRI serta mengharap korban isi data-data pribadi disana termasuk juga nomer PIN nasabah.

” Dengan terisinya data korban ada website phishing itu, jadi terekamlah data korban hingga aktor bisa dengan ringan ambil yg berada pada rekening korban, ” tukasnya.

Buat terduga Sudirman, ia bersama dengan rekanannya bikin modus yg sama seperti sebarkan SMS dengan cara acak buat utang online dengan kedok perusahaan pembiayaan bernama Asia Finance.

Persis seperti Suparman, Sudirman bersama dengan empat rekanannya yg berstatus DPO lantas membimbing korban supaya isi data pribadi mereka. Mereka kerjakan laganya dari bulan Maret 2018 sampai Oktober 2018.

” Dari kurun kala itu, terduga udah memperoleh beberapa puluh korban, ” katanya.

Atas perbuatan mereka, polisi mempersangkakan terdakwa sesuai sama UU ITE. Mereka diancam pidana 12 tahun penjara serta denda optimal Rp 12 miliar.