helikopter Militer Filipina Menembakkan Roket Di Marawi

helikopter Militer Filipina Menembakkan Roket Di Marawi – Militer Filipina mengklaim sudah menewaskan 89 agresif di kota Marawi, Mindanao, Filipina selatan sepanjang pertempuran yang berjalan kian lebih sepekan ini. Tetapi sampai sekarang ini, grup pemberontak Maute yang pro-ISIS itu masih tetap memberi perlawanan keras serta selalu menyekap beberapa sandera.

Seperti ditulis kantor berita AFP, Rabu (31/5/2017) , helikopter-helikopter militer Filipina hari ini menembakkan roket-roket berkali-kali ke kantung-kantung di Marawi, tempat beberapa agresif bersembunyi diantara warga setempat yang terjerat.

Pertempuran pada pasukan militer Filipina dengan grup pemberontak Maute sudah pecah mulai sejak Selasa (23/5) minggu lantas saat agresif Maute mengibarkan bendera ISIS sebagai tanggapan atas operasi militer untuk menangkap pemimpin agresif, Isnilon Hapilon, warga Filipina yang masuk dalam daftar teroris paling diburu Amerika Perkumpulan.

Juru bicara militer Filipina, Brigadir Jenderal Restituto Padilla menyampaikan, sekurang-kurangnya 89 agresif sudah tewas dalam pertempuran sebagai usaha militer merebut kembali kota Marawi serta temukan Hapilon. Disebutkan Padilla pada beberapa wartawan, Hapilon yang masih tetap selalu diburu, dipercaya masih tetap ada di Marawi.

Disebutkan Padilla, militer bikin perkembangan ” begitu positif ” untuk mengakhiri krisis di Marawi. Sepanjang pertempuran di Marawi itu, 21 personel militer Filipina serta 19 warga sipil juga tewas.

Disadari Padilla, ada banyak warga yang terjerat di sekitaran 10 % lokasi Marawi yang masih tetap dikuasai agresif. Pasukan militer dipercaya bakal memperoleh perlawanan sengit di wilayah-wilayah itu.

” 10 % itu yaitu lokasi yang begitu dijaga ketat serta dibela oleh pria-pria bersenjata bila mereka membuat perlindungan individu bernilai tinggi, ” tutur Padilla yang mengakui tidak paham berapakah jumlah agresif Maute yang masih tetap ada di Marawi.

Sekarang ini masih tetap ada sekitaran 2 ribu warga yang terjerat di wilayah-wilayah Marawi yang dikuasai agresif Maute. Beberapa agresif juga masih tetap menyandera seseorang pendeta serta 14 orang yang lain.

Presiden Rodrigo Duterte sudah memberlakukan hukum darurat militer di semua lokasi Mindanao sebagai tanggapan atas krisis di Marawi. Disebutkan Duterte, kekerasan di Marawi tunjukkan kalau kelompok-kelompok agresif lokal menyatu di belakang ISIS serta jadi ancaman keamanan besar di semua Mindanao.