Gara-gara Ngompol dan Tak Mau Kerjakan PR, TKI Aniaya Anak Majikan di Singapura

Gara-gara Ngompol dan Tak Mau Kerjakan PR, TKI  Aniaya Anak Majikan di Singapura – Seseorang pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia divonis 6 bulan penjara di Singapura atas gugatan menganiaya anak majikannya. Pengasuh ini masukkan cabai rawit ke mulut bocah wanita berumur 7 tahun serta memukulinya.

Senin (10/12/2018) , tidak cuman masukkan cabai ke mulut bocah itu, PRT bernama Hamida (33) ini pun mencambuk serta memukul bocah wanita itu pada bagian kepala dengan papan garukan buat kucing. Tindak kekerasan itu dilaksanakan si PRT lantaran bocah itu mengompol serta gak pengin melakukan pekerjaan rumah (PR) .

Dalam sidang yg diadakan Senin (10/12) waktu ditempat, Hamida dijatuhi vonis enam bulan penjara oleh pengadilan Singapura. Diakui dia bersalah atas satu gugatan berikan perlakuan kasar pada bocah 7 tahun itu.

Insiden ini berlangsung pada 27 Juli tahun ini, disaat Hamida ada dalam rumah majikannya cuma berbarengan korban serta kakak wanita korban yg berumur 9 tahun. Hamida didapati udah kerja pada keluarga majikannya itu sepanjang tujuh tahun.

Dikatakan dalam persidangan kalau korban mengompol sebelum perbuatan kekerasan berlangsung. Disaat Hamida ajukan pertanyaan kenapa celana bocah itu basah, ia terus diam. Di sebutkan pun dalam sidang kalau korban menampik buat melakukan PR mengeja.

Pada kejadian itu, Hamida udah ambil sebuah cabai rawit serta memotongnya selama 1-2 cm. Ia lantas masukkan potongan cabai rawit itu ke mulut korban dengan cara paksa.

Kemudian, Hamida mencambuk korban pada bagian pundak serta memanfaatkan papan garukan seberat 1, 3 kilo-gram buat memukul kepala korban sisi samping.

Disaat ibunda korban pulang ke rumah, kakak wanita korban ceritakan apakah yg berlangsung. Sang ibunda merasa luka-luka pada bagian kiri kepala putrinya serta langsung menyebut polisi ditempat.

Dalam persidangan, Hamida yg tak diwakili pengacara menjelaskan dirinya sendiri tidak akan memberikan pembelaan. Hakim persidangan terus menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara pada Hamida.

Buat gugatan yg menjeratnya, Hamida terancam hukuman maksimal sampai 4 tahun penjara atau dijatuhi hukuman denda maksimal SG$ 4 ribu.