Bayi 8 Bulan Meninggal Usai Jalani Perawatan di RSUD Maros Akibat DBD

Bayi 8 Bulan Meninggal Usai Jalani Perawatan di RSUD Maros Akibat DBD – Sepanjang dua bulan paling akhir, jumlahnya pasien demam berdarah di Maros, Sulawesi Selatan bertambah mencolok. Dari 20 orang di bulan Desember 2018, naik jadi 61 orang sepanjang Januari 2019.

Selesai banjir besar menyerang.menimpa, bayi umur 8 bulan, bahkan juga dikatakan wafat selesai menekuni perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salewangang Maros karena DBD.

Sampai saat ini, pihak RSUD masihlah mengatasi beberapa puluh pasien, baik yang sudah positif atau yang masihlah dianggap atau suspek DBD. Semua pasien, didominasi oleh umur anak, di mulai dari umur 5 bulan sampai 12 tahun.

“Desember 20 masalah. Nah di januari ini telah ada 61 orang. Dipicu jelas sebab cuaca, ditambah lagi waktu banjir besar saat kemarin. Sejumlah besar pasien telah kita pulangkan namun masihlah ada yang kita rawat. Beberapa terakhir ini ada bayi 8 bulan yang wafat sebab DBD,” ujarnya, Selasa (29/1/2019).

Sejumlah pasien DBD yang di terima di RSUD Salewangang, sangat terpaksa dirujuk ke Makassar sebab kondisinya yang krusial serta terbatasnya alat medis. Tetapi, rata-rata pasien masih menekuni perawatan di RSUD Maros hingga dikatakan pulih. Mereka rata-rata sudah dirawat sepanjang 4 hari serta adalah pasien rekomendasi dari Puskesmas.

“Kita fokuskan di ruangan inap Seruni. Mereka memang pasien rekomendasi dari Puskesmas yang sudah dapatkan perlakuan disana. Jika yang positif DBD, masihlah ada kurang lebih 7 orang yang kita rawat inap sekarang,” katanya.

Kecuali pengasapan atu fogging, Dinas Kesehatan Maros sudah jauh hari melakukan program satu rumah satu juru pemantau jentik yang dikehendaki dapat meminimalkan kembang biak jentik. Masalahnya fogging dianggap tdk efisien sebab cuma mematikan nyamuk saja.

“Jika cuma fogging itu tidaklah terlalu efisien sebab cuma membunuh nyamuknya, jentiknya tdk. Nah karena itu kita sudah selenggarakan program antisipasi jauh-jauh hari. Kita ingin masyarakat dapat mengawasi lingkungan serta melapor jika ada masyarakat yang dianggap DBD,” katanya.